Sabtu, 05 Januari 2013

DOA SEPERLUNYA ZIKIR SEBANYAK-BANYAKNYA


 Suatu ketika Pak Dahlan Iskan (menteri BUMN, Red) bertanya kepada saya: "Apakah di dalam Alquran ada perintah untuk berdoa sebanyak-banyaknya?" Saya jawab: "Tidak ada. Yang ada adalah perintah untuk BERZIKIR sebanyak-banyaknya."
 Rupanya, Pak Dahlan sedang galau tentang banyaknya orang yang sangat suka berdoa, tetapi kurang berusaha. Sehingga, terasa kurang menghargai karunia Allah yang telah diberikan kepada kita untuk bekerja keras dalam menggapai tujuan.
 Saya memang tidak menemukan perintah untuk berdoa sebanyak-banyaknya itu. Bahkan, para Nabi dan Rasul beserta para pengikutnya yang sedang berjuang menegakkan agama Allah pun ketika sedang menghadapi masalah tidak diperintahkan untuk berdoa, melainkan disuruh banyak-banyak berzikir.
 "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan berzikirlah menyebut (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu memperoleh kemenangan (QS. Al Anfaal (8): 45)."
 Perintah itu diulang-ulang di dalam berbagai ayat untuk kepentingan yang lebih umum. Bahwa, dalam kondisi apa pun, Allah memerintah kita untuk memperbanyak zikir. "Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya (QS. Al Ahzab: 41)."
 Mengapa kita disuruh banyak berzikir jika dibandingkan dengan meminta tolong" Agaknya kita sudah bisa menebak alasan yang ada di baliknya. Bahwa orang yang sering meminta tolong justru akan memperlemah daya juangnya sendiri. Sebaliknya, orang yang banyak berzikir mengingat Allah akan menguatkan.
 Berzikir memiliki makna selalu merasa dekat dengan Allah secara lahiriah maupun batiniah. Menyebut dengan lisan maupun mengingat dengan hati. Ada perasaan selalu bersama dengan-Nya kapan saja dan di mana saja sehingga memunculkan rasa tenteram dan percaya diri untuk memperoleh pertolongan dan perlindungan dari-Nya.
 "(Yaitu) Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir kepada Allah, ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati manusia menjadi tenteram (QS. Ar Ra"d: 28)."
 Di dalam zikir itu sebenarnya sudah terkandung doa meminta pertolongan dan perlindungan kepada-Nya. Tetapi, tidak semata-mata diungkapkan sebagai permintaan tolong yang berkepanjangan. Yang sering justru melemahkan motivasi untuk berjuang dan bekerja keras mencapai tujuan. Allah sudah memberikan segala anugerah berupa kecerdasan, ilmu pengetahuan, kekuatan, kekuasaan, rezeki, dan sebagainya yang harus kita gunakan secara maksimal. Dalam bekerja keras dan perjuangan itulah, Allah bakal menilai kita apakah kita pantas memperoleh karunia yang lebih besar lagi atau tidak.
 Karena itu, tidak heran, Allah menginformasikan kepada kita bahwa ganjaran surga pun bakal diberikan kepada orang-orang yang telah berusaha dan bekerja keras. Bukan kepada orang-orang yang gemar berdoa sambil bemalas-malasan.
 "Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum terbukti bagi Allah orang-orang yang berjuang di antaramu, dan belum terbukti orang-orang yang sabar (QS. Ali Imran: 142)."
 Dengan kata lain, lha wong belum berjuang dan berusaha keras untuk mencapainya kok sudah berangan-angan mendapat surga. Demikian pula, belum terbukti bisa menaklukkan masalah dengan penuh kesabaran kok sudah mengharapkan kesuksesan. Bukan begitu. Hanya orang-orang yang pantas mendapat kesuksesanlah yang bakal diberi kesuksesan oleh Allah. Dan hanya orang-orang yang pantas memperoleh kegagalanlah yang akan diberi kegagalan oleh-Nya.
 Dalam ayat berikut, Allah juga memberikan informasi semacam itu. Kita dipersilakan untuk memilih menjadi orang yang mau maju atau mau mundur. Semua bergantung kepada kita sendiri. Setiap diri bertanggung jawab sepenuhnya atas keputusan yang diambilnya.
 "Liman syaa-a minkum an yataqaddama au yata-akhkhar. Kullu nafsin bimaa kasabat rahiinah "Bagi siapa saja di antara kalian yang mau maju atau mau mundur (silakan). Setiap diri bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya. (QS. Al Mudatstsir: 37"38)."
 Maka, dalam konteks zikir dan doa ini, kita diajari untuk melakukan secara proporsional. Zikir dianjurkan dilakukan sebanyak-banyaknya agar jiwa kita selalu "nyambung" dengan Allah. Maka, ketika jiwa sudah tersambung kepada-Nya, doa tidak perlu banyak-banyak, sudah sangat mustajab. Karena jiwanya telah terisi penuh oleh eksistensi Allah.
 Sebaliknya, tidak sedikit orang yang berdoa, tetapi jiwanya tidak tersambung kepada Allah. Zikirnya buruk, karena tidak sepenuh hati, sehingga jiwanya pun jauh dari Allah. Bagaimana mungkin doa yang demikian bisa terkabul, lha wong doa itu hanya meluncur dari lisannya, tanpa melibatkan hatinya. Sementara itu, Allah mengajari kita agar tidak lalai saat berzikir kepada-Nya dengan merendahkan suara maupun berbisik-bisik mesra di dalam jiwa.
 "Dan berzikirlah menyebut (nama) Tuhanmu di dalam jiwamu, dengan merendahkan diri dan rasa takut serta dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang hari. Dan janganlah kamu termasuk
http://www.malang-post.com/arema-persema/51901--zikir-sebanyak-banyaknya-berdoa-sedikit-saja

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mohon anda berkomentar tetapi jaga kesopanan dan jangan melakukan spam